DATA
Mahadata dan Kesehatan
Masyarakat
Oleh : Adhitya
Ramadhan
Harian Kompas, 30 November 2018
KOMPAS/ADI SUCIPTO K
Kini
Lamongan punya aplikasi eSIKLA yang berisi big data terkait pasien mulai data
pribadi hingga riwayat kesehatan. Data itu terintegrasi dengan seluruh
Puskesmas sehingga memudahkan layanan ke pasien dengan tindakan tepat dan
akurat.
Pemanfaatan
mahadata meningkatkan derajat kesehatan warga. Selain identifikasi risiko
medis, data juga untuk pengendalian biaya kesehatan.
Data
merupakan sumber informasi kuat yang bisa ditemukan dalam banyak hal. Arus data
bertambah secara eksponensial sehingga perlu teknik lebih lanjut dalam
mengolahnya yang kerap disebut mahadata (big data). Analisis mahadata
bermanfaat bagi kehidupan manusia, bahkan menyelamatkan nyawa.
Dalam
webinar (konferensi video berbasis web) mahadata dan kesehatan masyarakat,
beberapa waktu lalu, Profesor Biostatistik dari Harvard TH Chan School of
Public Health, Miguel Hernan, mengatakan, mahadata punya arti berbeda bagi
setiap orang. Pada konteks kesehatan, mahadata mengacu data interaksi kita
dengan fasilitas kesehatan.
Saat
seseorang sakit dan berobat ke fasilitas kesehatan, mendapat diagnosis
penyakit, lalu menjalani terapi, itu memunculkan serial data lengkap. Jika data
individu itu dikumpulkan dengan data individu lain, amat banyak data yang bisa
dipakai untuk berbagai kepentingan. Contohnya, menganalisis risiko kesehatan
seseorang menurut pola perilaku atau memprediksi wabah penyakit di suatu
wilayah.
Menurut
Ketua Joint Learning Network (JLN) Prof Ali Ghufron Mukti, mahadata bisa untuk
mengevaluasi penerapan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat
(JKN-KIS). Adapun JLN ialah wadah berbagi pengalaman penyelenggara jaminan
kesehatan dari sejumlah negara.
Di
Indonesia, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan memakai mahadata
JKN-KIS untuk mengendalikan biaya kesehatan. BPJS
Kesehatan mengembangkan Deteksi Potensi Fraud dengan Analisa Data Klaim (Defrada).
Kesehatan mengembangkan Deteksi Potensi Fraud dengan Analisa Data Klaim (Defrada).
Klaim
bermasalah
Direktur
Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan Maya Amiarny Rusady memaparkan,
hasil analisis Defrada mengidentifikasi sekitar 79.000 klaim rumah sakit
bermasalah. Jadi, ada beda jumlah diklaimkan dengan yang seharusnya dibayar.
Dengan analisis data klaim, pembayaran klaim janggal Rp 48 miliar dicegah.
Analisis
mahadata memudahkan peserta JKN mengakses fasilitas kesehatan. Pasien dengan
riwayat penyakit tertentu lebih mudah dirujuk jika data RS beserta kompetensi,
sumber daya manusia, dan fasilitasnya bisa diakses.
Health
Facilities Information System (HFIS) yang dikembangkan BPJS Kesehatan
seharusnya menjamin peserta mendapat layanan kesehatan dibutuhkan. Sistem
rujukan pun berjalan lebih baik. BPJS Kesehatan bisa membuat kontrak kerja sama
lebih terukur dan akuntabel.
Di
Korea Selatan, pemerintah setempat mengamanatkan 39 lembaga pemerintah untuk
memberikan data kepada penyelenggara jaminan kesehatan, yakni National Health
Insurance Service (NHIS). Direktur Hubungan Internasional dan Kerja Sama NHIS
Korea Selatan Inseok Yong mengatakan, sejak 2000 NHIS mendapat 343 jenis data
mencakup 3,4 triliun set data berisi, antara lain, nama dan rekam medis. Sejak
2010 NHIS memanfaatkan itu untuk mendorong kesehatan warga dan kendali biaya
medis.
Selain
itu, NHIS menjadikan data ini sebagai dasar aplikasi kesehatan warga, yakni My
Health Bank Service berbasis koneksi data. Jadi, orang tahu risiko kesehatan
dengan analisis data rekam medisnya, penggunaan obat, diagnosis medis, dan
perilaku.
Ada
juga aplikasi Health Risk Assesment (HRA) untuk menilai risiko kesehatan
seseorang lewat analisis perilakunya, seperti kebiasaan merokok dan aktivitas
fisik. Sejak 2014, mahadata untuk memprediksi risiko penyakit menular di satu
wilayah. Data juga untuk bahan pengambilan kebijakan.
Sementara
di Ghana, analisis data besar dilakukan untuk mengukur efektivitas intervensi
kesehatan (khususnya dalam program pengendalian tuberkulosisi), manajemen obat
dan logistik, mengukur beban penyakit, audit klinis, hingga pengendalian klaim
biaya kesehatan.
Pengembangan
analisis data besar sebagai bahan pengambilan kebijakan tetap memiliki
prasyarat mulai dari tersedianya sistem informasi dan teknologi yang andal dan
terkoneksi satu sama lain, sumber daya manusia yang kompeten, biaya
pemeliharaan sistem yang ajeg, hingga regulasi yang mengatur soal arus data
yang jelas.
Untuk
memenuhi semua syarat itu, memerlukan komitmen pemerintah yang besar. Tapi jika
itu dilakukan dan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk lebih sehat dan
menjadi basis bukti bagi pengambilan kebijakan maka semua investasi yang
dikeluarkan terbayar sudah.

Komentar
Posting Komentar