FIGUR INOVASI
Kegawatdaruratan Vivi
Oleh : Mawar Kusuma
Kompas Minggu, 4 November 2018
Hal
tak terduga dalam hidup membawa Dyah G Savitri Wirahadikusumah menapaki karier
yang tak pernah jadi mimpinya. Dokter gigi nan lincah di lapangan ini kini
justru banyak berkecimpung dalam pembangunan sistem pelayanan kesehatan
darurat. Dari tangannya lahir perusahaan layanan kesehatan darurat yang juga
menjadi pusat pelatihan berstandar internasional untuk keadaan gawat darurat.
Sempat
mencicipi pengalaman kerja di bidang emergency dan
humanitarian WHO, Vivi mendirikan Medic One Indonesia, sebuah layanan emergency
medical services (EMS) pertama di Indonesia yang mengacu pada protokol
911 di Amerika Serikat sejak 2008. Lulusan Master of Public Health dari George
Washington University ini juga sempat magang di Bank Dunia dan turut mengurus
vaksin hingga ke salah satu negara di Benua Afrika.
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Vivi
Wirahadikusumah
Vivi
menyebut kita tidak memiliki layanan telepon darurat seperti 911, ambulan
datang tak tepat waktu, dan bekal pertolongan pertama belum menjadi sebuah
kesadaran untuk dipelajari. Pada perjalanan menuju rumah sakit, pasien juga
tidak memperoleh layanan pra-hospital sehingga stabilisasi baru dilakukan
ketika sudah tiba di rumah sakit.
”Ini
sistem yang bolong di Indonesia. Bagi RS, investasinya besar dan kejadian
darurat tidak terjadi setiap hari. Kematian ayah menumbuhkan passion untuk
meningkatkan kualitas layanan kesehatan darurat,” tutur Vivi.
Selamatkan
nyawa
Tugas
utama Medic One dengan 40 tim medis ini adalah menstabilkan kondisi pasien
sebelum tiba di rumah sakit rujukan. Sebagai perusahaan swasta, Medic One yang
buka 24 jam dalam sehari memfokuskan layanannya bagi perusahaan ataupun
individu yang tergabung sebagai anggota. Medic One juga menyediakan motor dan
ambulans yang masing-masing memiliki peralatan medis darurat berstandar
internasional.
Membangun
EMS atau layanan kesehatan darurat di Indonesia ternyata tidak sesederhana yang
dibayangkan. Pemerintah memang membuat layanan
EMS lewat 118, tetapi belum berjalan dengan baik. Berkiblat layanan kondisi darurat di luar negeri seperti 911 yang memang dikelola oleh perusahaan swasta dan terbagi dalam banyak zona kawasan, Medic One akhirnya lahir dan memilih terfokus di Jakarta.
EMS lewat 118, tetapi belum berjalan dengan baik. Berkiblat layanan kondisi darurat di luar negeri seperti 911 yang memang dikelola oleh perusahaan swasta dan terbagi dalam banyak zona kawasan, Medic One akhirnya lahir dan memilih terfokus di Jakarta.
Tantangan
lain muncul ketika Medic One butuh emergency medical technician (EMT)
atau paramedis yang bekerja menstabilkan kondisi pasien sebelum tiba di RS.
Kala itu, ternyata Indonesia tidak memiliki EMT dan hanya mengenal profesi
dokter dan perawat. Memegang beberapa lisensi internasional, seperti dari
American Heart Association, Medic One lantas melatih perawat menjadi EMT
paramedis.
Seiring
waktu, kehadiran Medic One terbukti mengambil peran besar dalam menyelamatkan
nyawa pada kondisi darurat. Kini semakin banyak perusahaan yang memercayakan keselamatan
kerja pada Medic One. ”Kalau datang ke klien, harus menjelaskan kalau kita
EMS company. Kalau di luar negeri, orang pasti tahu. Agak susah
karena enggak ada referensi. Sama kayak apa? Enggak terlalu frustrasi,”
ujarnya.
Klien
Medic One, seperti BCA, misalnya, tak hanya melengkapi kantornya dengan
peralatan pertolongan pertama seperti alat kejut jantung, tetapi juga
memercayakan pelatihan pertolongan pertama bagi karyawannya kepada Medic One.
Bank lainnya, seperti Maybank, memberikan fasilitas akses ke Medic One untuk
pertolongan kegawatdaruratan kepada nasabah prioritasnya.
Medic
One pun hadir di tempat umum, seperti pusat perbelanjaan Senayan City. Kasus
kecelakaan ternyata kerap terjadi di mal, seperti anak yang panas tinggi lalu
kejang ketika midnight sale hingga pembunuhan dan overdosis.
Lain lagi kasus-kasus kegawatdaruratan di klien seperti Fitness First. Sering
kali, kaum perempuan yang diet ketat lalu olahraga keras tiba-tiba pingsan
karena gula darah drop.
Tanggap
bencana
Mengikuti
protokol 911, jalur telepon Medic One terbagi menjadi hot call yang
membahayakan jiwa dan cold call yang hanya membutuhkan panduan
pertolongan pertama. Banyak pelanggan Medic One yang adalah sekolah-sekolah
sering kali memakai jalur cold call ini ketika ada murid
mengalami kecelakaan di sekolah. ”Kalau ada perdarahan di tangan angkat di atas
jantung supaya darah enggak makin ngucur. Ikat angkat. Keilmuan itu sangat
umum, tetapi enggak semua tahu. Bagaimana pun kita second aider.
Datang kalau dipanggil orang,” kata Vivi.
Terbiasa
dengan layanan kegawatdaruratan, Vivi pun selalu ringan tangan turut terlibat
menolong dalam beragam kejadian bencana. Bersama tiga sahabatnya sejak SMA,
Didiet Maulana, Tri Clay, dan Dewi Dee Lestari, Vivi juga mendirikan Sahabat
Peduli Indonesia yang lebih fokus pada bantuan untuk pembangunan WASH
Facilities (Water-Sanitation-Hygiene) di daerah bencana, seperti daerah
terdampak letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, gempa di Nepal, gempa Lombok,
dan gempa di Palu.
Sejak
masih kuliah public health di Amerika Serikat, Vivi memang
sudah bercita-cita pulang ke Indonesia dan membangun daerah terpencil sesuai
keilmuannya. Kuliah dengan fasilitas minim dan harus jalan kaki ke mana-mana
membentuk Vivi menjadi pribadi yang tangguh. Kejujuran juga menjadi nilai yang
ditanamkan di keluarga besarnya.
”Dulu
ayah saya bilang kamu capek-capek sekolah di luar bakal balik ke sini enggak?
Kalau enggak balik percuma. Negara kita masih berkembang. Ngapain di
sana. Syaratnya harus pulang. Ayah saya keras. Ngerasa beruntungnya
sekarang. Tahu proses, enggak tergantung ama orang,” ungkap
Vivi yang juga cucu kemenakan dari Umar Wirahadikusumah ini.
Vivi
juga menginisiasi pembangunan Balai Pelatihan dan Perpustakaan ”Uloang Daad
Nuhu Evav” untuk memperbaiki literasi sekaligus meningkatkan keterampilan warga
Pulau Kei Kecil di Maluku. ”Basic-nya karena senang. If you have
passion you don’t complain. Kesel masalah banyak, tetapi kayak maju
terus,” kata Vivi.
Drg
Dyah G Savitri Wirahadikusumah MPH
Tempat,
Tanggal lahir: Jember, 14 Juli
1975
Pengalaman
Profesional:
– Pendiri, Managing Direktur, dan Koordinator International Training Center Medic One Indonesia (2008-sekarang)
– Pendiri Sahabat Peduli Indonesia (2017-sekarang)
– Pemilik dan dokter gigi di Dentalink Dental Clinic, Cibubur (2003-sekarang)
– Pemilik dan dokter gigi di Poligigi Rumah Sakit Meilia, Cibubur (2006-sekarang)
– Manajer Operasional di Medikaloka Health Care Primary Care Clinic, Jakarta (2006-2007)
– Dokter gigi di Garuda Sentra Medika, Jakarta (2003-2006)
– Public Health Officer di World Health Organization, Department Risk Management and Humanitarian Response (ERM), Jakarta (2002-2003)
– Pendiri, Managing Direktur, dan Koordinator International Training Center Medic One Indonesia (2008-sekarang)
– Pendiri Sahabat Peduli Indonesia (2017-sekarang)
– Pemilik dan dokter gigi di Dentalink Dental Clinic, Cibubur (2003-sekarang)
– Pemilik dan dokter gigi di Poligigi Rumah Sakit Meilia, Cibubur (2006-sekarang)
– Manajer Operasional di Medikaloka Health Care Primary Care Clinic, Jakarta (2006-2007)
– Dokter gigi di Garuda Sentra Medika, Jakarta (2003-2006)
– Public Health Officer di World Health Organization, Department Risk Management and Humanitarian Response (ERM), Jakarta (2002-2003)
Pendidikan:
– Sarjana Kedokteran Gigi (SKG) dan Dokter Gigi (DRG) di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti (1993-1999)
– Master Public Health di School of Public Health and Health Services, The George Washington University, Washington DC, AS (1999-2001)
– Sarjana Kedokteran Gigi (SKG) dan Dokter Gigi (DRG) di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti (1993-1999)
– Master Public Health di School of Public Health and Health Services, The George Washington University, Washington DC, AS (1999-2001)

Komentar
Posting Komentar