LINGKUNGAN HIDUP
Ikhtiar Magelang Mengolah
Sampah
Harian Kompas, 14 November 2018
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Pekerja
mengolah sampah menjadi kompos di Pasar Kebonpolo, Magelang, Jawa Tengah, Rabu
(17/10). Dalam sebulan tempat tersebut menghasilkan 25 botol pupuk cair kemasan
1,5 liter dan 50 kantong kompos kemasan 10 kilogram dari sampah yang
dikumpulkan dari pasar itu
Magelang,
kota sejuk di lembah gunung dan perbukitan di Jawa Tengah, pada masa kolonial
pernah dijuluki ”de Tuin van Java” atau ”Taman Pulau Jawa” karena keasriannya.
Untuk itu, pemerintah kota serius mengelola sampah. Tak hanya di jalanan kota,
pengelolaan sampah juga dilakukan di pasar-pasar tradisional.
Aktivitas
jual-beli di Pasar Kebon Polo, Magelang, Kamis (25/10/2018), semakin sepi saat
Irwanto dan dua rekannya mulai memilah sampah yang dikumpulkan dari para
pedagang di tempat pengolahan sampah pasar. Setiap hari, mulai pukul 15.00,
mereka memburu sampah organik untuk dipilah.
Sampah
yang terkumpul berkisar 4-6 keranjang per hari. Berat sampah per keranjang
mencapai 1 kuintal. Setelah sampah organik dipisahkan, sampah anorganik,
seperti plastik dan kertas, diletakkan dalam keranjang untuk diangkut dan
dibuang di tempat pembuangan akhir.
Sampah
organik dipilah lagi. Sampah sayuran dicacah, digiling, lalu ditaruh dalam
tong. Setelah diberi tetes tebu dan zat inokulan untuk mempercepat pembusukan,
tong berisi sampah ditutup rapat. ”Setelah 15 hari, sampah dalam tong akan
berubah menjadi pupuk kompos,” tutur Irwanto.
Selain
sampah padat yang dikumpulkan dari pedagang, Irwanto juga mengumpulkan sampah
cair seperti air bekas cucian daging dan air kelapa. Sampah cair dan padat
(dari buah-buahan serta bumbu dapur) diproses menjadi pupuk cair.
Karena
ditargetkan menjadi pupuk cair, yang diolah adalah cairan dari masing-masing
bahan. Sampah buah direndam air, selanjutnya cairan diambil untuk diproses.
Sama seperti proses membuat kompos, semua cairan diberi tetes tebu dan inokulan
EM4, kemudian didiamkan selama 15 hari.
Belatung
lalat
Keseriusan
mengolah sampah juga dilakukan di Pasar Rejowinangun, Kecamatan Magelang
Tengah. Para petugas kebersihan mengembangkan maggot sebagai pemakan sampah
organik sayur dan buah.
Maggot
adalah belatung (larva) lalat. Maret lalu, mereka mulai mengembangbiakkan dari
2 kilogram (kg) pupa (kepompong) dan 4 gram telur lalat. Sekitar 1,5 bulan
kemudian, mereka berhasil membiakkan belatung dalam empat kotak berukuran 1,2 x
1 meter persegi.
Maggot
terbuktif efektif memakan sampah organik sayur dan buah. Dari tahap awal hanya
menghabiskan 5-7 kg sampah, meningkat hingga 30-40 kg sampah. Selama satu bulan
bisa menghabiskan 3 kuintal sampah.
Pertengahan
Juni lalu, kandang belatung sempat diacak-acak tikus. Namun, mereka tidak
menyerah. ”Kami berupaya mengembangkan maggot lagi,” ujar Sigit Agus Mujianto,
petugas kebersihan di Pasar Rejowinangun.
Di
pasar itu juga dilakukan pembuatan kompos. Pupuk kompos dibuat dengan
memanfaatkan sampah sisa dari buah nangka.
Kepala
Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Magelang Sarwo Imam
Santoso mengatakan, inovasi mengolah sampah dilakukan sejak tahun 2012.
Pengolahan
sampah dirasa perlu dilakukan karena lima pasar tradisional di Kota Magelang
menyumbang sampah dalam volume cukup besar, yakni 3-4 truk atau 20 meter kubik
sampah per hari.
Pengolahan
sampah menjadi kompos dan pupuk cair dilakukan oleh petugas kebersihan yang
telah dilatih dinas. Penanganan sampah dengan budidaya maggot dilakukan sebagai
bagian dari uji coba inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kota
Magelang.
Dari
upaya penanganan sampah ini masyarakat merasakan dampak ganda dari pembenahan
pasar. Selain semakin bersih dan nyaman dikunjungi, pasar-pasar tradisional di
Kota Magelang kini ramai dikunjungi lembaga pendidikan dari sejumlah kota yang
ingin belajar soal pengolahan sampah.
Kebersihan
kota menjadi modal utama menarik wisatawan. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik, rata-rata lama tinggal wisatawan asing di Kota Magelang adalah 2,4
hari.
Angka
ini termasuk lima tertinggi dari 35 kabupaten dan kota di Jateng. Para pelari
Borobudur Marathon yang menginap di Kota Magelang pun dijamin akan betah.
Dari
sudut-sudut pasar tradisional, kebiasaan mengolah, memilah dan memilih sampah
bisa terus berkembang menjadi kebiasaan dan gaya hidup setiap warga. Dengan
begitu, keasrian ”Kota Sejuta Bunga” terus terjaga. (EGI)

Komentar
Posting Komentar