ANTON SANJOYO
Harian
Kompas, 14 November 2018 ·
KOMPAS/HANDINING
Anton Sanjoyo,
wartawan senior Kompas
Pernahkan
Anda menyadari bahwa kita hidup di negara dengan masyarakat yang malas bergerak,
enggan melakukan aktivitas fisik sehingga dalam jangka menengah-panjang bangsa
Indonesia akan mengalami darurat kesehatan secara umum?
Coba
tengok aktivitas Anda dan masyarakat secara umum. Pernahkah Anda memperhatikan
begitu padatnya jalanan, terutama di perkotaan oleh kendaraan bermotor? Coba
lihat betapa orang-orang berebut parkir di lokasi yang berdekatan dengan pintu
masuk di mal-mal atau pusat perbelanjaan hanya karena mereka malas berjalan
kaki? Berapa kali dalam sepekan dan berapa lama Anda melakukan aktivitas fisik
ringan sampai sedang?
Jika
Anda sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, sekarang coba tengok
fenomena ini. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan kesehatan di
Universitas Stanford, Amerika Serikat, Indonesia adalah negara dengan penduduk
yang paling malas berjalan kaki. Studi yang diungkap oleh jurnal
kesehatan Nature pada 2017 memperlihatkan, orang Indonesia
rata-rata hanya berjalan 3.513 langkah per hari, jauh di bawah negara-negara di
seluruh dunia.
KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA
Sejumlah
siswa berjalan di trotoar Jalan Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/3).
Pemerintah Kota Bandung mengampanyekan gerakan berjalan kaki ke sekolah untuk
mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Penelitian
Universitas Stanford menggunakan data lebih dari 700.000 orang yang dikumpulkan
dari 111 negara dengan fokus pada aktivitas perorangan secara berkelanjutan.
Penelitian ini juga mengungkapkan kota-kota, yang sangat ramah terhadap pejalan
kaki dengan melimpahnya moda transportasi massal dan jalur pedestrian,
rata-rata mempunyai angka jalan kaki yang tinggi. New York dan Hong Kong adalah
salah satu contoh kota yang masyarakatnya punya catatan jalan kaki paling
tinggi.
Hong
Kong yang merupakan bekas koloni Inggris memegang rekor negara dengan
masyarakat paling aktif jalan kaki dengan rata-rata 6.880 langkah per hari,
sementara Rusia berada di peringkat kedua dengan angka 5.969 langkah per hari.
Indonesia berada di kelompok terbawah dengan aktivitas jalan kaki terendah
bersama dengan Arab Saudi (3.807), Malaysia (3.963), Filipina (4.008) dan
Afrika Selatan (4.105).
Dalam
penjabaran lebih lanjut mengenai penelitian ini, jurnal Naturemengungkapkan,
pemerintah di negara-negara yang diteliti sebenarnya bisa memanfaatkan
data-data penelitian ini untuk meningkatkan taraf kesehatan dan kehidupan
masyarakatnya. Kata kuncinya adalah ”ketidaksetaraan aktivitas”. Tim Althoff,
salah satu peneliti, mengatakan, semakin besar ketidaksetaraan aktivitas,
semakin tinggi tingkat obesitas di suatu negara. Semakin tinggi tingkat
obesitas, semakin rentan masyarakatnya terkena berbagai macam penyakit.
”Sebagai
contoh, Swedia merupakan salah satu negara dengan celah terkecil dalam
ketidaksetaraan aktivitas… juga merupakan negara dengan tingkat obesitas paling
rendah,” papar Althoff seperti dikutip laman BBC.
Para
peneliti juga mengaku terkejut saat menemukan bahwa ketidaksetaraan aktivitas
dipicu oleh perbedaan jender, pria dan perempuan. Di negara seperti
Jepang—dengan tingkat obesitas dan ketidaksetaraan rendah—pria dan perempuan
menunjukkan tingkat yang sama. Namun, di negara seperti Amerika Serikat dan
Arab Saudi di mana tingkat ketidaksetaraan tinggi, kaum perempuan melewatkan
waktunya dengan tidak beraktivitas.
Temuan
para peneliti Universitas Stanford ternyata satu garis lurus dengan laporan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis September 2018. Laporan yang
ditulis lengkap oleh BBC ini menyebutkan lebih dari seperempat penduduk Bumi
atau sekitar 1,4 miliar jiwa tidak melakukan aktivitas atau latihan fisik yang
cukup yang berdampak langsung pada risiko terkena penyakit. Angka ini terus
meningkat sejak 2001. WHO mengingatkan, ketidakaktifan ini meningkatkan risiko
aneka problem kesehatan, seperti sakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa
jenis kanker.
Negara-negara
kaya dengan tingkat pendapatan masyarakat yang rata-rata tinggi seperti Inggris
Raya adalah termasuk mereka dengan aktivitas rendah. Kelompok perempuan juga
ditemukan kurang aktif hampir merata di seluruh dunia, kecuali di dua wilayah
Asia.
Penelitian
WHO ini mengoleksi data aktivitas dari survei di 358 basis populasi di 168
negara dan mencakup 1,9 juta jiwa. WHO menemukan, di negara-negara kaya (high
income), termasuk Inggris Raya dan Amerika Serikat, proporsi individu tidak
aktif telah meningkat dari 32 persen pada 2001 menjadi 37 persen pada 2016,
sementara proporsi negara-negara pendapatan rendah (low income) stabil
16 persen di rentang yang sama.
Mereka
yang dikategorikan kurang aktif adalah individu yang melakukan kurang dari 150
menit latihan fisik moderat—atau 75 menit latihan intensitas tinggi/berat—per
pekan.
Para
ahli menyatakan transisi di negara-negara yang lebih makmur terhadap berbagai
pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak aktivitas fisik dan meningkatnya hobi
masyarakat bersamaan dengan meningkatkan penggunaan kendaraan bermotor bisa
menjelaskan mengapa terjadi fenomena peningkatan tingkat ketidakaktifan
masyarakat.
Di
negara-negara dengan pendapatan rendah, orang cenderung lebih aktif dalam
pekerjaan, lebih banyak berjalan kaki atau menggunakan transportasi publik.
Para
pembuat laporan untuk WHO ini memperingatkan, jika angka ketidakaktifan terus
bertahan dengan kecenderungan periode 2001-2016, target badan dunia ini untuk
mengurangi ketidakaktifan global hingga 10 persen pada 2025 akan mengalami
kegagalan besar.
Jika
melihat data yang dirilis WHO melalui penelitian The Lancet Global Health,
Indonesia termasuk negara yang cukup aktif dengan tingkat ketidakaktifan di
level 15-30 persen pada rata-rata orang dewasa. Angka ini cukup menggembirakan
mengingat dari sumber penelitian lain yang dilansir jurnal Nature,
rata-rata orang Indonesia paling malas berjalan kaki.
Uganda
merupakan negara dengan penduduk dewasa paling aktif di dunia dengan tingkat
orang dewasa yang tidak aktif hanya 5,5 persen. Sementara negara petro dollar
Kuwait memegang rekor tingkat tidak aktif tertinggi dengan 67 persen orang
dewasa.
Yang
agak mengejutkan adalah Brasil, negara yang terkenal dengan tarian Samba dan
kiblat sepak bola dunia dengan belasan ribu pemain profesional mereka
melanglang buana di liga-liga seluruh dunia. Negara peraih lima kali gelar
juara dunia tersebut terbilang cukup tinggi untuk ketidakaktifan di kalangan
orang dewasa, yakni 47 persen.
Tentang
Uganda, negara di benua Afrika tersebut, 70 persen penduduknya, terutama di
pedesaan, bekerja di sektor pertanian yang membutuhkan tingkat aktivitas fisik
tinggi. Abiasali Nsereko (68 tahun) misalnya, seorang petani di wilayah
Luweero, sebelah utara ibu kota Kampala mengatakan, dia mulai bekerja di
ladangnya pada pukul 05.00.
”Saya
menghabiskan waktu selama delapan jam sehari dalam enam hari sepekan,” kata
Nsereko kepada BBC. ”Jika saya berhenti bekerja, kemungkinan besar saya akan
jatuh sakit. Pada usia saya sekarang, saya nyaris tak punya satu pun penyakit
di badan saya,” lanjut Nsereko membanggakan kesehatannya yang prima.
Namun,
selain jutaan petani di Uganda seperti Nsereko, kecenderungan menonjol di
kota-kota besar seperti Kampala adalah makin banyaknya orang dewasa yang
melakukan aktivitas fisik di jalanan dan ruang-ruang publik. Meski jalur
pedestrian dan taman-taman kota sangat minim di kota-kota besar Uganda,
kecenderungan aktivitas fisik tersebut meningkat secara signifikan.
Di
kota-kota besar juga tumbuh subur kelompok-kelompok kebugaran seperti yang
terlihat di sekitar Stadion Nasional Mandela di Namboole.
Pada
7 Juli lalu, Presiden Yoweri Museveni mendeklarasikan Hari Nasional Aktivitas
Fisik yang memberi sinyal kuat bahwa Uganda ingin mempertahankan diri sebagai
negara yang masyarakatnya paling aktif di dunia. Hari nasional itu rencananya
akan diperingati setiap tahun dengan berbagai kegiatan.
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Warga
berolahraga di kawasan stadion Gelora Bung Karno di Senayan, Jakarta, Minggu
(18/2/2018).
Jika
melirik Uganda, Indonesia sebenarnya sudah jauh lebih maju dalam hal
kecenderungan peningkatan aktivitas fisik masyakarat. Sejak zaman Presiden
Soeharto, Indonesia telah mempunyai Hari Olahraga Nasional atau Haornas. Dalam
satu dekade terakhir, masyarakat Indonesia, terutama di perkotaan, menjalankan
gaya hidup sehat dengan banyak sekali melakukan aktivitas fisik di luar ruang.
Kegiatan lari dan bersepeda kini bahkan menjadi tren gaya hidup yang sangat
disukai dari usia remaja sampai manula.
Namun,
dalam Indeks Kesehatan Dunia, Indonesia masih tergolong rendah dan berada di
peringkat 101 dari 149 negara. Pada laporan yang dirilis The Legatum Prosperity
Index (2017) yang mengukur indikator kesehatan fisik, mental, infrastruktur
kesehatan dan pencegahan penyakit, Indonesia masih tertinggal oleh sesama
negara ASEAN, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, bahkan Laos.
Faktor
pola makan, konsumsi rokok, kebersihan, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat
akan kesehatan, semisal pentingnya imunisasi dan vaksin, ditengarai menjadi
berbagai sebab yang membuat indeks kesehatan Indonesia masih jauh dari harapan.





Komentar
Posting Komentar