KATA KOTA
Toilet
Oleh : Neli Triana
Harian
Kompas, 18 November 2018
KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI
Toilet
portabel dipasang di arena kano/kayak slalom di Bendung Rentang, Kabupaten
Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (18/8/2018).
Tiap
19 November, yang tahun ini jatuh Senin esok, dikenal sebagai hari toilet
sedunia. Apa istimewanya toilet? Tempat buang hajat itu penting, lho,
demi keselamatan warga.
Keberadaan
toilet bukan sekadar tempat nongkrong melepas racun dari
tubuh. Seharusnya toilet menjadi awal dan bagian sistem sanitasi yang baik guna
menjaga agar lingkungan tempat tinggal manusia tidak tercemar limbahnya
sendiri.
Untuk
mudah memahaminya, Bianpoen membawa publik melihat Jakarta secara sederhana,
sebagai makhluk hidup.
Pada
tahun 1977, dalam suatu lokakarya, pakar tata kota dan lingkungan itu
menjelaskan bahwa sekitar 1.000 tahun lalu Jakarta memilih menetap di rawa-rawa
luas di muara Ciliwung. Aliran sungai menjadi sarana lalu lintas juga sumber
air. Kawasan ini makin menarik karena ada sungai-sungai lain mengalirinya.
Selama
beratus tahun kemudian, fisik lokasi yang didiami Jakarta terus diubah oleh
manusia pendukungnya. Rawa-rawa ada yang ditutup, ditimbun, sungai dibelokkan,
segala macam bangunan berdiri di atasnya. Pada awalnya, sistem drainase bisa
teratasi dengan tersedianya banyak aliran sungai di dataran rendah yang luas
tersebut. Gampangnya, alam masih mampu mengolah dan menetralisir semua limbah
itu.
Namun,
seiring makin banyaknya manusia menghuni dataran Jakarta, masalah bermunculan
ketika limbah yang tak diolah langsung dibuang ke sungai.
Restu
Gunawan dalam buku Gagalnya Sistem Kanal menceritakan
bagaimana di masa kolonial menguasai Batavia sekitar abad ke-17 dan ke-18,
berbagai penyakit, dari diare hingga malaria, menghinggapi warga Batavia dan
bahkan jadi wabah mematikan.
Sayangnya,
di tengah kekacauan itu, kebiasaan buang segala limbah langsung ke sungai terus
berlangsung. Di tahun 1977, Bianpoen memaparkan Jakarta sudah dihuni 5,5 juta
orang. Hilir sungai tersumbat sampah, limbah dan kotoran lain. Kapasitas
drainase Ibu Kota hanya tinggal 25 persen.
Kini,
lebih dari 40 tahun berlalu, di lahan bekas rawa-rawa yang sama, penduduk
membengkak hingga 10 juta jiwa lebih. Meskipun fasilitas toilet individu atau
di tiap rumah makin dikenal dan digunakan secara luas oleh warga, ternyata
pengolahannya masih minim. Limbah mentah masih banyak bermuara langsung di
sungai.
Penelusuran
Litbang Kompas dari data BPS, BPLHD DKI Jakarta, dan
Kementerian Kesehatan menunjukkan 95 persen waduk di Jakarta, 40 persen air
tanah, serta Sungai Ciliwung, Cipinang, Mookevart, Kalibaru, Tarum Barat, dan
Pesanggrahan tercemar berat oleh bakteri E coli yang terdapat
di tinja. Diare masih menjadi langganan.
Jadi, inilah gambaran makhluk Jakarta yang ternyata tidak berubah selama
berabad-abad. Sungai masih menjadi toilet raksasa. Pembuang limbah menanggung
dampak buruk perbuatannya, tetapi tak pernah mau belajar. Jakarta, oh, Jakarta.
Komentar
Posting Komentar