Biarkan Tubuh Bekerja
Oleh : Agnes Aristiarini
Harian Kompas, 1 November 2017
Berawal
dari sel tunggal yang kemudian membelah, tubuh manusia terdiri atas rangkaian
37,2 triliun sel yang menakjubkan. Di setiap detik hidup kita, sel-sel tubuh
terus bekerja untuk menjaga keseimbangan internal agar semua sistem tubuh
bekerja dan berinteraksi memenuhi kebutuhan tubuh. Kondisi ini dikenal sebagai
homeostasis.
Ketika
ada infeksi, homeostasis yang terganggu muncul dalam bentuk demam. Untuk
mengatasinya, tubuh akan menyesuaikan berbagai proses fisiologisnya sampai
mencapai suatu titik ekuilibrium atau keseimbangan baru. Penggunaan obat atau
manipulasi fisik sebenarnya lebih untuk memfasilitasi kemampuan tubuh untuk
sembuh dari dalam.
Salah
satu intervensi yang paling sering digunakan untuk mengatasi infeksi adalah
penggunaan antibiotik. Namun, sudah banyak kontroversi terjadi, bahkan di
kalangan kesehatan, tentang kapan dan bagaimana penggunaan antibiotik ini.
Apalagi
dalam kenyataannya, dalam tubuh manusia juga terdapat bakteri dan segala
mikroorganisma baik, yang membantu metabolisme dan menjaga homeostasis.
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional tidak hanya memicu resistensi kuman,
tetapi juga membunuh mikroba baik dalam tubuh.
Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan terakhirnya tentang “Antimicrobial
Resistance: Global Report on Surveillance” menyebutkan, kasus resistensi
antibiotik dunia tertinggi di Asia Tenggara, khususnya infeksi oleh Staphylococcus
aureus yang resisten antibiotik Methicillin.
Laman
Kementerian Kesehatan yang mengungkap penelitian resistensi mikroba pada tahun
2000-2004 di Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetomo Surabaya dan RS Umum Pusat dr
Kariadi Semarang menyebutkan sudah ada kuman multiresisten, seperti methicillin
resistant staphylococcus aureus (MRSA) dan bakteri penghasil extended
spectrum beta-lactamases (ESBL).
Selain
itu, ditemukan juga ada 30-80 persen penggunaan antibiotik yang tidak
berdasarkan indikasi. Tidaklah mengherankan apabila WHO menyatakan pada tahun
2013 terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB)
di dunia. Artinya, resistensi antimikroba menjadi masalah yang harus segera
diselesaikan.
Menurut
Ketut Surya Negara dalam “Analisis Implementasi Kebijakan Penggunaan
Antibiotika Rasional untuk Mencegah Resistensi Antibiotika di RSUP Sanglah
Denpasar: Studi Kasus Infeksi Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus” (Jurnal
ARSI, Oktober 2014), penggunaan antibiotika yang tidak rasional berdampak
panjang. Terjadi resistensi antibiotik, perlu antibiotik jenis baru dengan
spektrum lebih luas, peningkatan biaya perawatan, bahkan angka morbiditas dan
mortalitas.
Oleh
karena itu, imbauan Otoritas Kesehatan Inggris (PHE) agar pasien lebih banyak
beristirahat daripada menggunakan antibiotik seperti yang dipublikasikan BBC
baru-baru ini perlu dipertimbangkan. Bahkan, di Inggris pun, satu dari lima
antibiotik yang diresepkan sebenarnya tidak diperlukan karena tubuh memiliki
kemampuan menyembuhkan sendiri.
Menurut
Otoritas Kesehatan Inggris tersebut, 5.000 orang di Inggris meninggal setiap
tahun karena infeksi kuman kebal obat dan 4 dari 10 kasus infeksi E
coli tak bisa ditanggulangi dengan antibiotik lini pertama. Lebih
buruk lagi, tahun 2050, infeksi kuman yang sudah resisten obat bisa membunuh
lebih banyak dibandingkan kanker apabila kekeliruan paradigma pikir ini tidak
segera diatasi. Di Amerika Serikat, misalnya, bahkan sudah ditemukan bakteri
yang resisten pada 26 jenis antibiotik.
“Sebenarnya
sebagian besar penyakit infeksi akan sembuh dengan istirahat, minum banyak
cairan, dan mengonsumsi pereda nyeri. Antibiotik hanya mempersingkat waktu
pemulihan,” kata Paul Cosford, Direktur Medik PHE.
Ketut
menyarankan pencegahan resistensi antibiotika di rumah sakit dengan penegakan
pedoman penggunaan antibiotika yang rasional. Penapisan pasien dan petugas pun
perlu dilakukan, sekaligus mengoptimalkan peran tim terkait.
Komentar
Posting Komentar